Mencari Ketaqwaan dalam Sinar Kehambaan

Senin, 26 Januari 2015

FATAMORGANA...



Entah kenapa dari tadi saya memikir kan satu kata ini. Jujur, saya tdk telalu mengerti dengan arti kata fatamorgana itu. Yang ada difikiran saya adalah sebuah kata berarti tak tampak. Dapat dilihat namun tak mampu disentuh, ia hanya mampu dinikmati namun tak dapat dimiliki. Mampu meraba, namun tak mampu menyentuh. Yaah seperti itulah Fatamorgana.

Cinta pun dapat berarti fatamorgana,

Saya pernah merasakan mencintai tanpa memiliki, merasakan tanpa dirasakan, menyentuh tanpa disentuh, membayangkan tanpa dibayangkan. Saya pernah berada disana, dengan serpihan hati yang seakan tak mampu saya satukan lagi.

Malam ini, saya ingin mengungkapkan apa yang saya rasakan. Lewat tuts leptop ini jari jemari saya mulai mencoba menari. Saya, orang yang saat ini anda lihat menulis tulisan yang anda baca adalah orang yang sangat bodoh. Kau tau? Sangat bodoh. Iya, saya  memang bodoh. Mungkin itu yang pantas saya ucapkan disini.

Betapa bodohmya saya menunggu, betapa bodohnya saya mencinta, betapa bodohnya saya setia, sedangkan begitu banyak mawar-mawar itu bermekaran.begitu banyak orang yang lebih memperjuangkan saya dari pada orang yang saya tunggu. Saya memang bodoh. Maafkan saya.

Siapapun yang mencintai saya, terimakasih banyak. Saya menghargai perjuangan kalian. Tapi saya masih mengharap dipersatukan kembali dengan seorang pria yang dulu pernah menjadi bagian hidup saya. pria yang sangat saya bangga2kan saat itu. Saya masih mengharapkan dia. Maafkan saya.

Selama ini saya mencoba untuk melupakan dan membuat semuanya baik-baik saja. Tapi, semua itu malah membuat saya semakin tersiksa. Entah apa yang saya rasakan, saya begitu sangat mencintainya, rasa memiliki itu sangat kuat, sehingga untuk menolehpun saya tak sanggup. Maafkan saya

Ini memang bukan sesuatu yang besar, tapi ini mengajarkan saya banyak hal. saya belajar untuk menahan nafsu dunia saat saya mencintainya. Saya belajar indah nya mencintai dalam diam seperti yang dikatakan kebanyakan orang.

Saat saya mencintainya, saya sadar bahwa tak ada cinta yang abadi selain cinta kepada Allah. Maka dari itu saya diam, agar saya semakin yakin bahwa tak ada makhluk yang mampu membuat saya merasa tenang kecuali Allah.

Dengan mencintai Allah maka cinta kita tidak akan bertepuk sebelah tangan. Seperti itulah saya menyikapinya. Kalimat “saya mencintaimu karna Allah” pun sudah tak lagi saya ucapkan. Karna saat ini, saya benar-benar memperaktekan itu semua.

Dengan cara inilah saya mencintaimu karna Allah. dengan cara menjadi silent lover lah Allah ridha dengan perasaan kita.  

Wahai nama indah yang masih melekat dalam hatiku,, aku  mencintaimu. Semoga Allah ridha dengan caraku mencintaimu. Kamu tidak perlu tahu, kamu hanya perlu merasakannya, dalam mimpimu, dalam lamunanmu, dalam sholatmu, dalam dzikirmu. Kau hanya perlu merasakan bahwa ada seseorang yang sampai saat ini merindukanmu. Karna Allah masih memberikan rasa rindu itu kpd ku..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar