Mencari Ketaqwaan dalam Sinar Kehambaan

Minggu, 08 Februari 2015

SAYA + ALLAH = CUKUP



Sungguh, nikmat Allah yang mana lagikah yang sanggup saya dustakan?
Salah satu kata yang sering saya rasakan bisa membuat saya sadar bahwa ini adalah nikmat. Yaah.. sakit hati ini adalah nikmat. Luka itu nikmat, sedih itu nikmat.

Saat Allah memilih saya harus meninggalkan dia demi Dia. Saat itu saya sadar bahwa Allah mengharuskan saya untuk mencintaiNya dari pada mencintainya. 

Kemudian saya mulai berfikir, mungkin ada lagi nikmat Allah dibalik kesedihan dan luka ini. Saat kemarin saya hanya memuja seseorang tanpa menyisakan rasa untuk sang Khalik, saat kmarin saya lebih membuang uang saya untuk membeli pulsa telephone dari pada membuang uang saya untuk bersedekah. Saat sering saya membaca ulang SMS dan pesan dia dari pada membaca surat Cinta dari Allah. Saat ini saya mulai berfikir, 

Setelah tak ada lagi SMS darinya, tak ada lagi suara indahnya, hikmah mulai terlihat.dibalik hati yang teriris iris dan berdarah ini Allah hendak mengembalikan saya kepada cintaNya. Apa ada cinta yang lebih indah dari pada cinta sang pemilik napas ini? Tentu tidak ada.

Maka nikmat Allah yang mana lagikah yang sanggup saya pungkiri?
Kini,saya lebih menghayati dan memaknai arti kata sholat. Sholat adalah saat dimana kita berbincang dengan Allah, maka pada saat saya sholat, saya akan berbicara kepada Allah. Saya akan menceritakan apa yang saya rasakan, saya akan berterimakasih kepadaNya karna telah memberikan luka yang membuat saya sadar, ini akan lebih mendekatkan saya kepadaNya.

Satu hal yang selalu saya ingat bahwa apa yang terjadi kepada saya adalah karna Allah sangat mencintai saya. Allah memisahkan saya dari si dia karna memang cinta saya sudah menjadi berhala. Allah tak ingin saya terlalu jauh tenggelam dalam dosa, Allah hanya ingin saya mencintaiNya sahaja dulu.
Satu lagi, jangan pernah membuat cinta ini BERHALA !

Saya sadar bahwa saya terlalu sering melihat pintu yang tertutup, lalu manangisi kenapa pintu itu tertutup,. Lalu saya menggedor-gedor sang penutup pintu agar mau membuka pintu itu kembali, dan meraung-raung dibelakang pintu meratapi luka. Betapa bodohnya saya.

Kebodohan yang lain saat saya melupakan jendela-jendela yang terbuka lebar yang dapat membuat saya melihat lebih luas sudut-sudut dunia yang lebih indah.
Ini yang dinamakan menganggap cinta itu BERHALA
.
Kita tak perlu iri dengan mereka yang bahagia, karna pasti meraka akan merasakan terluka. Dan kita tak perlu takut menjadi seperti merka yang terluka, karna pasti kita akan merasakan bahagia. Ingat, janji Allah itu pasti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar